Outlook Energi Indonesia 2014

September 30, 2014 pukul 11:04 pm | Ditulis dalam Book | Tinggalkan komentar

Agus Sugiyono, Anindhita, M. Sidik Boedoyo, dan Adiarso (Editor), Outlook Energi Indonesia 2014: Pengembangan Energi untuk Mendukung Program Substitusi BBM, ISBN 978-602-1328-02-6, Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi, BPPT, Jakarta, 2014.

Outlook Energi Indonesia 2014

Outlook Energi Indonesia 2014

Buku Outlook Energi Indonesia 2014 (OEI 2014) mempunyai tema “Pengembangan Energi dalam Mendukung Program Substitusi BBM (Bahan Bakar Minyak)” bertujuan untuk memberikan gambaran tentang permasalahan energi saat ini serta proyeksi kebutuhan dan pasokan energi untuk kurun waktu 2012-2035.

Energi mempunyai peranan penting guna menciptakan ketahanan nasional, selain itu konsep kemaritiman yang diusung Presiden terpilih nantinya juga akan bergantung pada ketersediaan energi nasional. Hal itu jelas menuntut pengelolaan energi yang tepat dan cermat, meliputi penyediaan, pemanfaatan dan pengusahaannya yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, rasional, optimal dan terencana.

Secara umum ada dua permasalahan yang penting untuk dipertimbangkan yaitu upaya Indonesia untuk lepas dari perangkap negara berpendapatan menengah atau “middle income trap” dan upaya untuk mengurangi beban subsidi energi khususnya subsidi BBM. Masalah middle income trap sering dihadapi oleh negara berkembang untuk meningkatkan pendapatan per kapita dari negara berpendapatan menengah menjadi negara dengan pendapatan tinggi. Menurut World Bank batas antara negara berpenghasilan menengah dan tinggi adalah 12,616 USD per kapita. Sehubungan dengan kondisi dan permasalahan diatas, maka dalam Buku OEI 2014 ini dibahas dua skenario yaitu skenario dasar dan skenario tinggi serta satu kasus yaitu pengembangan energi untuk mendukung program substitusi BBM.

Pada skenario dasar, kebutuhan energi (termasuk biomasa) meningkat dari 1.079 juta SBM (Setara Barel Minyak) pada tahun 2012 menjadi 1.916 juta SBM pada tahun 2025 dan mencapai 2.980 juta SBM pada tahun 2035 dengan laju pertumbuhan 4,5% per tahun. Sedangkan pada skenario tinggi, kebutuhan energi pada tahun 2025 adalah sebesar 2.132 juta SBM dan mencapai 3.797 juta SBM pada tahun 2035 dengan laju pertumbuhan 5,6% per tahun. Pada skenario dasar, sektor industri diperkirakan akan menjadi konsumen energi komersial (tanpa biomasa) terbesar yang pangsanya naik dari 41,8% (2012) menjadi 44,4% (2035). Sektor transportasi sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi menjadi konsumen energi kedua terbesar dengan pangsa 39,6%. Pada skenario tinggi, kondisi hampir sama dengan skenario dasar hanya sektor industri tumbuh lebih cepat sehingga pangsanya mencapai 45% sementara sektor transportasi sedikit lebih rendah yaitu 38,4%.

Bahan bakar minyak (BBM) masih tetap menjadi jenis energi utama dalam memenuhi kebutuhan dengan pangsa 37% pada tahum 2012, dan pada tahun 2035 pangsa tersebut meningkat menjadi 42,9% (skenario dasar) dan 43,3% (skenario tinggi). Saat ini konsumsi BBM bersubsidi di sektor transportasi yang semakin tinggi menyebabkan beban subsidi BBM pada anggaran belanja negara. Langkah pengurangan subsidi BBM ada dua cara yaitu menaikkan harga BBM sampai mencapai nilai keekonomiannya serta melakukan substitusi BBM dengan bahan bakar nabati (BBN) dan bahan bakar gas (BBG). Dalam upaya mencapai hasil yang optimal, maka kedua strategi tersebut dapat dilaksanakan secara bersamaan secara bertahap sampai harga BBM mencapai nilai keekonomiannya.

Total penyediaan energi primer untuk skenario dasar pada tahun 2012-2035 meningkat hampir 3 kali lipat dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,7% per tahun, dari 1.542 juta SBM (2012) menjadi 4.475 juta SBM (2035). Pertumbuhan PDB yang lebih besar menyebabkan total penyediaan energi pada skenario tinggi meningkat lebih tajam dengan pertumbuhan rata-rata 5,9% per tahun. Bauran energi tahun 2012 didominasi oleh minyak bumi dan akan bergeser ke batubara pada tahun 2035.

Keterbatasan sumber daya energi menyebabkan pada tahun 2033 total produksi energi dalam negeri (fosil dan EBT) sudah tidak mampu lagi memenuhi konsumsi domestik sehingga Indonesia akan menjadi negara “net importir energi” untuk skenario dasar. Pada skenario tinggi menjadi net importir energi lebih cepat lagi yaitu pada tahun 2030 karena peningkatan kebutuhan energi yang lebih tinggi. Untuk pasokan gas, Indonesia akan menjadi negara “net importir gas” pada tahun2023, berdasarkan data neraca gas 2012-2025.

Ketergantungan impor energi yang tinggi dapat membahayakan ketahanan energi nasional. Oleh karena itu upaya-upaya seperti diversifikasi energi, penambahan kilang, maupun investasi untuk eksplorasi dan eksploitasi mutlak diperlukan. Selain itu, kebijakan ekspor gas dan batubara perlu ditinjau ulang dalam rangka mengamankan pasokan energi domestik di kemudian hari.

Persoalan-persoalan dalam pengelolaan energi tersebut harus mendapat prioritas untuk dicarikan solusinya mengingat energi adalah sebagai salah satu faktor penggerak perekonomian nasional.

<Download Book>

Panitia Penyenggara

Panitia Pelaksana Peluncuran Buku OEI 2014

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: