Outlook Energi Indonesia 2016

Juli 26, 2016 pukul 1:58 pm | Ditulis dalam Book | Tinggalkan komentar

Agus Sugiyono, Anindhita, La Ode M.A. Wahid, dan Adiarso (Editor)Outlook Energi Indonesia 2016: Pengembangan Energi untuk Mendukung Industri Hijau, ISBN 978-602-74702-0-0, Pusat Teknologi Sumber Daya Energi dan Industri Kimia, BPPT, Jakarta, 2016.

Cover - BPPT-OEI 2016 LowResBuku Outlook Energi Indonesia 2016 (BPPT-OEI 2015) yang mempunyai tema “Pengembangan Energi untuk Mendukung Industri Hijau” bertujuan untuk memberikan gambaran tentang permasalahan energi saat ini, proyeksi kebutuhan dan pasokan energi, dan potensi pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) pada sektor industri dalam kurun waktu 2014-2050. Tema ini diambil terkait dengan Undang-Undang No. 3/2014 tentang Perindustrian yang mengamanatkan pemerintah untuk mengembangkan industri hijau.

Buku BPPT-OEI 2016 membahas 2 (dua) skenario pengembangan energi, yaitu Skenario Dasar (SD) untuk pertumbuhan ekonomi moderat (rata-rata 6% per tahun, tumbuh dari 8.566 triliun rupiah pada tahun 2014 menjadi 69.778 triliun rupiah pada tahun 2050 pada harga konstan 2010) dan Skenario Tinggi (ST) untuk pertumbuhan ekonomi tinggi (rata-rata 6,9% per tahun), serta 3 (tiga) kasus yaitu Kasus Industri Hijau Dasar (KIHD), Kasus Industri Hijau Tinggi (KIHT) dan Kasus Pengurangan Cadangan Batubara (KPCB). Kondisi pertumbuhan ekonomi tersebut akan meningkatkan kebutuhan energi dari 962 juta SBM pada tahun 2014 menjadi 5.449 juta SBM pada tahun 2050, atau meningkat rata 4,9% per tahun untuk Skenario Dasar dan 5,7% per tahun untuk Skenario Tinggi. Hal ini menjadikan elastisitas kebutuhan energi untuk kurun waktu 2014-2050 sebesar 0,82 untuk Skenario Dasar dan 0,83 untuk Skenario Tinggi.

Pada kedua skenario tersebut, sektor industri merupakan konsumen energi terbanyak yang meningkat pangsanya dari 45% pada tahun 2014 menjadi 49% pada tahun 2050. Peningkatan pangsa kebutuhan energi di sektor industri dalam rangka mendukung peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam menyongsong Indonesia sebagai negara industri. Sektor transportasi sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi menjadi konsumen energi terbesar kedua dengan pangsa 36% (2014) serta menjadi 39% (Skenario Dasar) dan 40% (Skenario Tinggi) pada tahun 2050. Kemudian disusul oleh sektor rumah tangga, sektor komersial, dan sektor lainnya.

Namun demikian, Indonesia belum bisa lepas dari pemanfaatan bahan bakar minyak (BBM) karena BBM masih tetap menjadi jenis energi utama dalam memenuhi kebutuhan energi final dengan pangsa 31,5% pada tahun 2014 dan menjadi 43% (Skenario Dasar) serta 43% (Skenario Tinggi) pada tahun 2050. Hal ini terjadi karena penggunaan teknologi peralatan berbasis BBM masih lebih efisien dibandingkan dengan peralatan berbasis bahan bakar lainnya, terutama di sektor transportasi. Selanjutnya, batubara merupakan jenis energi terbesar kedua dengan pangsa sekitar 23%, disusul gas bumi (14%), listrik (14%), BBN (3%), serta biomassa dan LPG sekitar 2% pada tahun 2050.

Total penyediaan energi primer untuk memenuhi kebutuhan energi meningkat hampir 7,2 kali lipat (2014-2050). Penyediaan energi primer meningkat dari 1.289 juta SBM (2014) menjadi 7.218 juta SBM (2050) atau meningkat rata-rata sebesar 4,7% per tahun untuk Skenario Dasar, sedangkan untuk Skenario Tinggi meningkat rata-rata sebesar 6,1% per tahun. Penyediaan energi akan tetap didominasi oleh energi fosil sampai dengan tahun 2050. Pangsa terbesar adalah batubara, sedangkan peran EBT masih relatif kecil pada tahun 2050 hanya sebesar 14,9% dari total penyediaan energi untuk Skenario Dasar. Lebih dari 50% pemanfaatan EBT adalah untuk pembangkitan listrik.

Indonesia sudah lama menjadi net importir minyak bumi dan akan diikuti menjadi net importir gas bumi pada tahun 2027 (Skenario Dasar), net importir energi pada tahun 2029 (Skenario Dasar), dan net importir batubara pada tahun 2046 (Kasus Pengurasan Cadangan Batubara). Ketergantungan impor energi yang tinggi dapat membahayakan ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, upaya-upaya diversifikasi energi, pembangunan infrastruktur energi termasuk kilang, maupun investasi untuk eksplorasi dan eksploitasi mutlak diperlukan. Selain itu, kebijakan ekspor gas dan batubara perlu ditinjau ulang dalam rangka mengamankan pasokan energi domestik di kemudian hari. Pemanfaatan EBT di sektor industri juga perlu didorong dalam rangka mendukung Industri Hijau seperti diamanatkan dalam UU tentang Perindustrian.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) pada sektor industri belum tercatat dan dipertimbangkan secara maksimal dalam neraca energi nasional. Potensi pemanfaatan EBT di 4 (empat) industri terpilih (pulp dan kertas, CPO, gula, dan semen) tahun 2014 mencapai 131 juta SBM, atau hampir tiga kali lipat dari data penggunaan EBT dari Kementerian ESDM (45 juta SBM). Untuk itu, perlu dilakukan koordinasi lebih lanjut terkait pencatatan data pemanfaatan EBT, khususnya di sektor industri.

Konstribusi EBT terhadap bauran energi primer berdasarkan data Kementerian ESDM mencapai 7,5% pada tahun 2014 dan diproyeksikan naik menjadi 12,5% pada tahun 2025 dan 13,4% pada tahun 2050. Sebaliknya, berdasarkan hasil perhitungan pada keempat industri tersebut kontribusi EBT mencapai 10% pada tahun 2014 kemudian naik menjadi 19,3% (2025) dan meningkat menjadi 38,5% (2050). Pemanfaatan EBT pada keempat industri terpilih selain berkonstribusi terhadap peningkatan bauran EBT juga berkonstribusi terhadap penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di sektor industri. Total mitigasi emisi GRK untuk Kasus Industri Hijau Dasar mencapai 3 kali lebih banyak dibanding untuk Skenario Dasar.

<Download Buku>

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: